[Review] "Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah" by Tere-Liye
Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Januari 2012
Halaman : 512
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Januari 2012
Halaman : 512
Tidak ada yang mudah dalam cinta. Biarkan semua mengalir bagai sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan.
2-791
“Dunia ini terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah.” –Ibu Kepsek (page 146)
Dan angpau merah itulah awal dari segala cerita. Tentang Borno, si bujang berhati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas. Tentang Borno yang selalu penasaran akan hal baru dan tak pernah lelah belajar. Tentang Borno yang kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Termasuk pertanyaan paling sulit jawabannya. Pertanyaan akan cinta. Pertanyaan yang semakin meningkat kadarnya ketika bertemu dengan gadis sendu menawan itu, Mei.
Kisah tentang Borno ini bukanlah kisah cinta picisan. Kisah ini tentang cinta pertama yang manis. Cinta yang menciptakan kisahnya sendiri, bukan cinta yang memaksakan harus seperti ini. Juga cinta yang tulus dan selalu memberi, bukan cinta yang mengharapkan imbalan. Dan cinta yang selalu bersabar, tidak menuntut penjelasan.
Borno, bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas. Sesuai dengan julukannya, dia pemuda yang baik. Pemuda yang polos dan tabu soal cinta. Pemuda yang memiliki hati sempurna. Pemuda yang memiliki sifat setia. Dan selalu menepati janjinya. Cintanya pada Mei tidak pernah luntur sedikit pun. Cinta pertama yang mengajarinya berbagai hal.
Borno disegani para tetangga, meskipun pada awalnya dimusuhi karena Bang Togar yang sok berkuasa itu menempelkan foto Borno besar-besar di dekat dermaga, sudah seperti buronan saja. Padahal dia hanya bekerja di pelampung tanpa niat melanggar perjanjian dengan pengemudi sepit lainnya. Tapi, siapa sih, yang tidak akan menyukai pemuda baik seperti Borno? Dia memang pemuda idaman. Berikut beberapa hal yang membuatku terpesona pada sosok Borno.
Beruntung pula dia karena bertemu dengan gadis peranakan Cina, si sendu menawan bernama Mei. Gadis yang baik dan cerdas itu kerap kali naik sepit Borno. Si Borno hanya bisa mencuri-curi pandang saja, malu-malu memulai pembicaraan. Boro-boro memulai pembicaraan, mengatakan ‘hai’ saja bibirnya gemetar. Jadilah Borno hanya bisa bertemu si sendu menawan 15 menit sehari. Dan menunggu 23 jam 45 menit untuk bertemu dengannya lagi.
Tokoh yang paling aku sukai di sini selain Borno adalah Pak Tua. ia Bijaksana. Meskipun sering menggoda Borno tentang si sendu menawan, berbicara dengan Pak Tua selalu menyenangkan. Banyak hal yang selalu beliau bagi kepada Borno dan yang lain. Salah satunya tentang sahabat Pak Tua, kisah tentang si Fulan dan si Fulani. Pasangan yang sempurna dalam ketidaksempurnaan. Sungguh aku terharu menyimak kisah Fulan dan Fulani yang selalu bertahan, selalu bersama, dan saling menyempurnakan satu sama lain. Kisah cinta yang memang jarang terjadi di dunia nyata.
“…Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.” –Pak Tua (page 132)
“Ya, cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.” –Pak Tua (page 167)
“Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah hanyalah omong kosong.” –Pak Tua (page 173)
“Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.” –Pak Tua (page 288)
“…Perasaan itu tidak sesederhana satu ditambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.” –Pak Tua (page 355)
Kisah ini mengalir tanpa hambatan seperti aliran air sepanjang Kapuas yang tenang. Tere Liye memang lihai merangkai kata demi kata. Membuat pembaca terhibur lewat lelucon yang disampaikan melalui tingkah ibu-ibu sepanjang tepian Kapuas yang memuji Borno, Pak Sihol yang sabun mandinya nyemplung ke Kapuas karena sepit Borno, sikap salah tingkah Borno saat bertemu Mei, dan ulah setiap pengemudi sepit yang konyol, terutama Jauhari yang hobi mengupil. Ditambah lagi dengan kisah ini diceritakan melalui sudut pandang Borno.
dan ada beberapa qoute juga di novel ini
"Masa muda adalah masa ketika kita bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah"
"Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong."
"Percayalah, sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walau kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datag mengganggu pikiran."
"Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu."
so, story yang menarik untuk dibaca :D

Comments
Post a Comment