Belajar Perjuangan Hidup dari Sepatu Dahlan
- Get link
- X
- Other Apps
Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Tanggal terbit : Mei – 2012
Harga : Rp 62.500
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Tanggal terbit : Mei – 2012
Harga : Rp 62.500
“Kemiskinan yang dijalani dengan cara yang tepat, akan mematangkan jiwa.” Pesan inilah yang ingin disampaikan oleh novel berjudul “Sepatu Dahlan” karangan Khrisna Pabichara. Novel setebal 392 halaman ini terinspirasi oleh kisah masa kecil Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang harus berjalan sekitar 6 kilometer setiap hari tanpa alas kaki!
Kisah dalam novel ini ditulis dengan alur mundur. Bermula dari mimpi “18 Jam Kematian” saat Dahlan menjalani operasi pencangkokan liver di negeri Tiongkok. Mimpi itu membawanya pada kenangan masa kecil, saat ia hidup bersama Bapak, Ibu, adiknya Zain di Kebon Dalem. Dahlan kecil lahir di sebuah keluarga petani yang miskin. Kedua kakaknya, mbak Atun dan mbak Sofwati memilih untuk pergi merantau dan mencari penghidupan sendiri. Namun di tengah kemiskinan, orang tua Dahlan mendidik anak-anaknya dengan kedisiplinan dan moral yang baik.
Usai lulus Sekolah Rakyat, sebenarnya Dahlan berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke SMP Magetan. Namun hal ini ditentang oleh sang Bapak yang menginginkan Dahlan menimba ilmu di pesantren Takeran, milik keluarga besar sang Ibu. Dahlan tak mampu menolak, terlebih dua angka merah di rapornya dan keterbatasan ekonomi keluarganya cukupmenjadi alasan baginya untuk mengurungkan keinginan.
Di hari pertama masuk Tsanawiyah, sang Bapak membekali Dahlan dengan tiga hal. Jangan ingin kaya dan jangan takut miskin (ojo kepingin sugih lan ojo wedi mlarat), tidak menyia-nyiakan waktu hanya untuk mencari jabatan (sumber bening ora bakal golek timbo), dan lebih baik miskin tapi beriman daripada kaya namun tidak beriman (mlarat ananging iman luwih becik tinimbang sugih tanpa iman). (hlm.31)
Sejatinya, cita-cita Dahlan sangat sederhana yakni memiliki sepatu dan sepeda. Di mata Dahlan, sosok teman-temannya yang memakai sepatu ke sekolah sangatlah gagah. Selain itu, perjalanan sejauh 6 kilometer ke sekolah bukan hal yang mudah untuk dijalani. Kakinya kerap melepuh karena panas matahari yang terik di siang hari. Belum lagi siksaan lapar yang sudah menghiasi keseharian Dahlan.
Ibu Dahlan yang mengerti keletihan sang anak pun berjanji akan membelikan sepatu untuknya. Namun malang tak dapat dielak, di satu pagi sang Ibu jatuh tergeletak di pekarangan rumah dengan darah berwarna merah kehitaman di ujung bibirnya. Sang Ibu meninggal akibat penyakit lever yang menyerang tubuhnya. Di usia mudanya, Dahlan sudah banyak merasa kehilangan. Ia kerap meluapkan kesedihan hatinya dalam buku harian, hanya untuk sekedar meringankan beban hidup yang berat.
Di atas segala kesedihan hidup, cita-cita tentang sepatu dan sepeda terus membuat Dahlan bekerja keras. Selain sekolah, Dahlan giat bekerja menyabit rumput di waktu subuh, menggembala domba di sore hari, dan nguli nyeset di ladang tebu. Meski kemiskinan telah mengajari Dahlan bahwa banyak yang lebih penting dibeli dibanding sepatu; tiwul, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya.
“Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam “durian runtuh” agar bisa membeli benda-benda idaman, atau membayangkan hal-hal lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak-anak orang kaya. Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orangtua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan.” (hlm. 248)
Novel ini bukan sebuah biografi Dahlan Iskan, karena sarat dengan unsur fiksi yang kuat. Tokoh Arif, Kadir, Imran, Maryati, dan Komariyah dihadirkan untuk meramaikan kehidupan Dahlan di Kebon Dalem. Hadir pula Aisha, putri mandor pabrik gula, yang diam-diam menjadi pujaan hati Dahlan sejak di Tsanawiyah. “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Hukum alam. Maka, sebagai orang miskin, aku tidak mau berharap terlalu muluk-muluk. Aku segera menghapus impian yang ketiga, Aisha. Pengalaman mengantar Aisha ke rumahnya, setelah pernah malu bukan kepalang karena terjun bebas ke selokan di depan matanya, adalah anugerah indah bagiku. Cukuplah itu.” (hlm. 322)
Novel ini bukan sebuah biografi Dahlan Iskan, karena sarat dengan unsur fiksi yang kuat. Tokoh Arif, Kadir, Imran, Maryati, dan Komariyah dihadirkan untuk meramaikan kehidupan Dahlan di Kebon Dalem. Hadir pula Aisha, putri mandor pabrik gula, yang diam-diam menjadi pujaan hati Dahlan sejak di Tsanawiyah. “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Hukum alam. Maka, sebagai orang miskin, aku tidak mau berharap terlalu muluk-muluk. Aku segera menghapus impian yang ketiga, Aisha. Pengalaman mengantar Aisha ke rumahnya, setelah pernah malu bukan kepalang karena terjun bebas ke selokan di depan matanya, adalah anugerah indah bagiku. Cukuplah itu.” (hlm. 322)
Cerita yang disajikan dalam novel ini sarat dengan hikmah perjuangan. Keberhasilan meraih mimpi adalah hak setiap orang. Mimpi, yang dimiliki keluarga miskin sekali pun, harus sepenuh daya diusahakan agar tercapai. Tuhan selalu memiliki cara terindah untuk memenuhi cita-cita hambaNya. Sebagaimana Dahlan yang tak pernah mengira, akhirnya ia mampu membeli sepatu dari rezeki yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Sumber : (blog.akusukamenulis) http://akusukamenulis.wordpress.com
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment